Lia Hermin Putri, Demikian nama panjang Bunda Lia Pimpinan Sanggar Supranatural Songgo Buwono. Bunda Lia lahir di Maospati, Madiun Jawa Timur ini memang sejak kecil telah ditempa oleh Mbah Marto kakek, yang juga menjadi guru spiritualnya.

Disamping pengetahuan supranatural, Bunda Lia juga diwarisi jiwa kepedulian atas pelestarian dan pengembangan budaya adiluhung oleh Mbah Marto. Hingga kini Bunda Lia bertekad ingin terus memelihara serta menumbuh-kembangkan Budaya Adiluhung peninggalan nenek moyang. Bunda Lia berpendapat, bahwa Budaya Adiluhung itulah yang dapat memperkuat, mempertahankan bahkan memajukan bangsa ini.

Sebagai perempuan berjiwa supranatural, Bunda Lia tidak puas begitu saja atas ilmu yang sudah didapat dari sang kakek, di awal tahun 90-an, dia pun melakukan pengembaraan dari satu daerah ke daerah lain untuk mencari guru yang lain, termasuk para Kyai. Setelah beberapa tahun perjalanan, kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya dan tradisi masyarakat semakin kuat, terutama pada Budaya Jawa.

Bukan Cuma itu, kekuatan supranaturalnya pun semakin nyawiji secara lahir-bathin. Hingga pada akhirnya, pada suatu malam, saat Bunda Lia melakukan Muhung Mahase asepi, dia mendapat petunjuk agar melakukan ritual tapa kungkum di pantai selatan Yogyakarta selama 7 kali malam Jumat Kliwon.

Dengan hanya berbekal selembar pakaian yang melekat di badan, dia pun berangkat ke Pantai Parangkusumo yang letaknya sekitar 30 Km selatan Yogyakarta.

Atas kegigihannya, di puncak ritual terakhir atau pada malam Jum'at Kliwon ke 7, ada sosok gaib yang menemuinya. Ghaib itu pun memperkenalkan dirinya sebagai Kanjeng Ratu Kidul. Kemudian gaib itu pun mewedar ilmu kepada Bunda Lia, termasuk sebuah nama baru untuknya, yaitu SETYOWATI.

Tak hanya itu, Bunda Lia juga diberi petunjuk oleh Kanjeng Ratu Kidul untuk membuat padepokan di wilayah Yogyakarta jika ingin mengabdikan hidup kepada masyarakat. Karena tempat ritual Bunda Lia di pantai selatan, maka dia memilih untuk mendirikan padepokan di sekitar pantai Parangtritis. Dan sesuai wedhar gaib padepokan yang didirikannya diberi nama Sanggar Supranatural SONGGO BUWONO. Padepokan yang didirikan dengan tertatih-tatih, kini tumbuh dan berkembang seperti sekarang ini.

Diakuinya, tidaklah ringan menyandang nama SONGGO BUWONO, namun karena sering melakukan interaksi positif dengan masyarakat, maka secara berangsur SONGGO BUWONO semakin membumi dan dekat dengan masyarakat

Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Supranatural Songgo Buwono 

SONGGO BUWONO bukanlah sekedar nama yang jatuh dari langit, namun nama tersebut boleh dibilang merupakan hasil renungan dan laku spiritual yang berlatar belakang pada tekad Bunda Lia Hermin Putri untuk mengabdikan dirinya pada Bangsa, Negara dan masyarakat dengan keilmuan yang dimilikinya. Setelah melakukan proses spiritual, barulah nama itu muncul yang kemudian dijadikan sebagai nama Sanggar Supranatural, yakni Sanggar Supranatural SONGGO BUWONO.

Adapun sanggar tersebut merupakan wadah bagi mereka yang ingin menggali pengetahuan yang berkaitan dengan seni budaya dan spiritual. Disinilah kami dapat saling mengisi ruang kosong pada diri kita dengan ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat banyak dengan tujuan social bermasyarakat. Sebagai sanggar yang lekat dengan unsur supranatural dan keparanormalan, SONGGO BUWONO mendidik dan melatih para anggotanya untuk dapat membantu sesama dalam hal penyembuhan alternatif, yang tentunya cara penyembuhan tersebut sesuai dengan kultur budaya dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Selain itu SONGGO BUWONO melatih seni tari dan beberapa kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memberdayakan Budaya dan Spiritual. Gerak Tari yang harus dijiwai dengan olah rasa agar gerak dan alunan itu dapat menyatu dengan alam ini. Namun yang menjadi titik sodok dan cita-cita SONGGO BUWONO adalah melakukan rekonsiliasi pada masyarakat melalui budaya, serta berusaha menjunjung tinggi dan menumbuh kembangkan budaya adiluhung peninggalan para leluhur. Hal ini kami lakukan dengan penuh kesabaran dan kesadaran.

Bukan tanpa alasan hal ini kami lakukan, Selain sudah menjadi tugas kami sebagai anak bangsa, kami tahu betul bahwa Budaya adalah benteng terakhir Bangsa ini untuk mengembalikanh harga diri Bangsa ini yang telah tercambik-cambik oleh budaya asing, Budaya asal inilah satu-satunya yang dapat menyelamatkan Bangsa danhal ini harus dipertahankan agar bangsa ini tak tercabik-cabik oleh faktor lain yang akan menyesatkan tunas-tunas Bangsa di masa mendatang.


 

       

VISI

MISI

Dengan Rekonsilisasi lewat Adat dan Budaya Sanggar Supranatural Songgo Buwono bersama komponen Bangsa Indonesia serta potensi yang terkandung dalam Bumi Pertiwi kita wujudkan Kemakmuran untuk Bangsa dan Negara berdasarkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila untuk Kebangkitan Bangsa Indonesia Adil dan Makmur menuju jaman Ke-emasan dalam Negara Mecusuar Ilmu dan Budaya. Membangun, menjaga, saling menghargai, menghormati, saling percaya dalam mewujudkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia